Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Pendidikan Indonesia Vs Finlandia

Sistem Pendidikan Indonesia dibandingkan Firlandia Sistem Pendidikan Indonesia VS Finlandia
pic by pixabay
Setiap negara tentu saja mempunyai sistem dan kebijakan tersendiri tak terkecuali kebijakan dan sistem pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, Finlandia mempunyai peringkat satu sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di Dunia. Saya tertarik membahas perbandingan sistem pendidikan di Indonesia dengan Finlandia, berawal ketika saya mendokumentasikan program disebuah sekolah Internasional di salah satu tempat Bandung Timur. Dalam program tersebut, salah satu guru yang telah melaksanakan study banding ke Finlandia mempresentasikan hasil study disana. 

Artikel ini hanya untuk perbandingan, tentu saja sistem pendidikan di Indonesia ataupun di Finlandia masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Maksud dari artikel ini saya buat bukan Indonesia harus mengikuti sistem pendidikan menyerupai di Finlandia, alasannya tentu saja akan sulit bila diterapkan di Indonesia yang adat, budaya, ekonomi dalam sistem kehidupan masyarakat indonesia berbeda kondisi dengan di sana. Harus ada pandangan gres dan pemikiran lain yang tentu saja mungkin seharusnya pemerintah lebih tahu apa yang harus di lakukan untuk pendidikan di Indonesia semoga lebih baik.

Sistem Pendidikan Indonesia VS Finlandia
  • Anak-anak di finlandia mulai sekolah diusia 7 tahun. Sedangkan di Indonesia kebanyakan orang bau tanah memasukan anaknya untuk sekolah di usia 4-5 tahun untuk mengikuti Taman Kanak-kanak atau sejenisnya. Tentu saja hal ini tidak salah dan ada banyak sisi positifnya, namun dikahawatirkan kebiasaan di Taman Kanak-kanak terbawa hingga anak masuk Sekolah Dasar, dibeberapa perkara anak tidak mau sekolah alasannya mungkin tuntutan di SD lebih banyak dari pada ketika anak tersebut di Taman Kanak-kanak yang cenderung lebih banyak santai dan bermainnya daripada belajar.
  • Di Finlandia, bawah umur sekolah jarang diberikan PR (Pekerjaan Rumah) kalaupun mendapatkan PR maksimum hanya menyita waktu tiga puluh menit waktu anak mencar ilmu di rumah. Di Indonesia PR masih dianggap suatu hal yang penting semoga anak mau mencar ilmu serta melatih kedisiplinan. Memang rasanya cukup efektif bila hal ini masih diterapkan di Indonesia, coba lihat anak sekolah disekitar kita, kebanyakan tidak ada PR sama dengan tidak belajar. 
  • Hanya ada satu tes yang memang diwajibkan di Firlandia ketika anak berusia sekitar 16 tahun atau mungkin bila di Indonesia hingga anak lulus SMA, jadi tidak ada tes kelulusan alasannya nantinya dikhawatirkan murid hanya melatih untuk sanggup lolos dari target, bukan untuk mencari ilmu pengetahuan itu sendiri. Di Indonesia ketika anak akan masuk SD dibeberapa sekolah favorit di berlakukan tes. Siswa-siswi dibebani dengan banyak sekali macam tes ulangan harian, ujian tengah semester, ujian tamat sekolah dan ujian yang paling banyak ditakuti yaitu ujian nasional. Bisa dibilang mungkin bagi sebagian orang ujian nasional menentukan masadepan, tidak sedikit orang yang putus asa jawaban tidak lulus ujian nasional padahal nilai keseharian siswa tersebut sangat baik bahkan ranking dikelasnya. Parahnya lagi justru hal ini malah menyebabkan kecurangan dari beberapa sekolah yang memang sekolah tersebut tidak ingin terlihat buruk jawaban banyaknya murid yang tidak lulus ketika ujian nasional. 
  • Suasana pendidikan di Finlandia dibentuk sangat nyaman dan fleksibel. Murid tidak diharuskan menggunakan seragam dan disana situasi pembelajaran dibentuk dengan suasana yang nyaman semoga murid semangat untuk tiba ke sekolah. Sementara di Indonesia murid diharuskan menggunakan seragam.
  • Setiap sekolah yang ada di Finlandia sangat memperhatikan asupan gizi murid-muridnya. Saat waktu istirahat atau makan siang tiba, sekolah sudah menyediakan banyak sekali makanan bergizi yang tentu saja disediakan secara gratis. Sedangkan di Indonesia ketika waktu istirahat tiba murid membeli sendiri makanan yang belum tentu mempunyai asupan gizi yang baik.
  • Di negara Finlandia tidak ada perbedaan antara murid yang mempunyai nilai akademis baik ataupun yang kurang, kesenjangan antara murid di finlandia yaitu yang terkecil di dunia. Di Indonesia banyak sekolah yang memberlakukan sistem kelas berdasarkan prestasi akademis. Seperti contohnya murid ranking 1-10 masuk kelas A, 11-20 masuk kelas B dan seterusnya, bila dilihat dari sisi positifnya memang ada tantangan atau pujian tersendiri bila masuk kedalam kelas favorit dan bahkan akan menjadi pemicu atau motivasi semoga murid terus belajar, namun mungkin tidak sedikit siswa yang malah minder bila masuk ke dalam kelas paling tamat disekolah tersebut, yang tentu saja justru akan mengganggu sikologis dari murid itu sendiri. 
  • di Finlandia, seluruh sistem pendidikan dibiayai oleh negara dan seluruh lapisan masyarakat mendapatkan kemudahan dan hak yang sama untuk pendidikan. berdasarkan beberapa sumber yang saya pelajari, Pemerintah Finlandia menganggarkan 30% lebih anggaran negaranya untuk pendidikan, hal ini lebih tinggi dari negara-negara lain termasuk Amerika. Di Indonesia pendidikan hanya mendapatkan jatah sekitar 20% dari anggaran negara. Meskipun ketika ini beberapa sekolah sudah menggratiskan biaya pendidikan (SPP), namun tetap banyak yang harus dibayar menyerupai uang lab, praktek, seragam, buku, perpustakaan dll. 
  • Di Finlandia Kurikulum nasional hanya berlaku secara umum, para guru bebas menentukan bentuk atau model persiapan mengajar dan menentukan metode serta buku pelajaran sesuai dengan pertimbangannya. Sementara di Indonesia guru harus menciptakan silabus dan RPP mengikuti model dari dinas terkait.  
  • Finlandia, Setiap guru hanya menghabiskan waktu 4 jam dalam satu hari untuk mengajar dan 2 jam per ahad yang untuk pengembangan profesi. Sedangkan di Indonesia kebanyakan setiap guru harus mengajar dari pagi hingga sore setiap hari.
  • Jumlah guru yang dimiliki oleh Finlandia sama dengan jumlah guru yang ada di New York, namun jumlah murid yang ditangani jauh lebih sedikit, termasuk jumlah siswa didalam kelas tidak lebih dari 16 orang. Di Indonesia rata-rata satu guru mengajar murid dalam satu kelas 30-40 orang.
  • Salah satu syarat untuk menjadi guru di Finlandia yaitu mempunyai gelar Master/S2 dan merupakan 10 lulusan terbaik dari universitas tersebut, sementara di Indonesia sendiri masih pusing meningkatkan kualifikasi guru semoga setara dengan S1, dan masih mendapatkan calon guru yang lulus dengan nilai pas-pasan.
  • Menyandang status guru di finlandia benar-benar dihormati dan dihargai. Sedangkan di Indonesia Status guru apalagi honorer masih sering diremehkan & dianggap pekerjaan yang kurang mencukupi kebutuhan hidup. Bahkan beberapa perkara guru di laporkan oleh orang bau tanah murid, guru dip*k*l orang bau tanah murid dll.
Semoga pendidikan di Indonesia akan lebih baik. Bukan hanya dari sisi akademis, namun kesiapan sumber daya insan yang bisa bersaing sesudah menuntaskan pendidikan, terutama moral dari generasi bangsa.